Program Studi Magister Ilmu Pangan, Magister Ilmu Peternakan, dan Sarjana Teknologi Pangan telah mengadakan kuliah umum secara hybrid pada hari Selasa, 25 Maret 2025, bertempat di Aula D.H. Penny, Fakultas Pertanian USU.
Kuliah umum ini mengangkat tema "Microwave Sterilization of Prepackaged Ready-to-Eat Meals" dan menghadirkan Prof. Dr. Shyam S. Sablani, seorang Guru Besar dari Washington State University, sebagai narasumber.
Kuliah umum ini diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Magister Ilmu Pangan, Prof. Dr. Ir. Hotnida Sinaga, M.Phil., Ph.D., dan dipandu oleh moderator Wahyu Haryati Maser, STP, M.Si., Ph.D., dosen dari Program Studi Teknologi Pangan. Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah ketua dan sekretaris program studi, dosen, serta mahasiswa. Secara keseluruhan, kuliah umum yang diselenggarakan secara hybrid ini diikuti oleh sekitar 80 peserta.
Dalam sambutannya, Prof. Hotnida menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berharga bagi para peserta untuk memperoleh wawasan baru sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis. Ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis sangat penting sebagai bekal dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Dalam paparannya, Prof. Sablani menyampaikan bahwa teknologi pemanasan dengan microwave kini semakin diminati karena menawarkan efisiensi energi yang tinggi serta kecepatan dalam memanaskan makanan. Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi juga memungkinkan integrasi antara sensor dan kecerdasan buatan (AI), yang memungkinkan proses memasak dilakukan secara lebih personal dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Tak hanya itu, inovasi dalam kemasan cerdas juga turut mendukung optimalisasi proses pemanasan makanan. Menurut beliau, seluruh perkembangan ini bertujuan untuk memenuhi harapan konsumen yang menginginkan solusi makanan yang praktis dan efisien. Lebih lanjut, Prof. Sablani menjelaskan bahwa teknologi ini sangat relevan dengan tren masa kini, seperti meningkatnya popularitas paket makanan siap masak (meal prep kits) dan layanan makanan sesuai permintaan (on-demand food services).
Penjelasan tersebut berkaitan erat dengan riset yang telah ia tekuni sejak tahun 2007. Prof. Sablani memulai penelitiannya untuk mengembangkan teknologi microwave dan kemasan makanan berpenghalang tinggi, yang kemudian menghasilkan kemasan polimer multilapis yang mampu memperpanjang masa simpan makanan hingga sembilan bulan. Tantangan utama dalam inovasi tersebut terletak pada sifat polimer yang masih permeabel terhadap oksigen dan uap air, sehingga membutuhkan rekayasa tambahan. Ia juga menyoroti bahwa bahan logam tidak cocok untuk penggunaan microwave karena tidak tembus gelombang, sementara kaca dinilai berisiko karena mudah pecah. Inovasi-inovasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung penyimpanan makanan yang lebih aman, praktis, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen modern.
Peserta diharapkan dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk menambah wawasan dan mengasah kemampuan berpikir kritis, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan masa depan. Selain itu, dengan meneladani semangat inovasi seperti yang ditunjukkan oleh Prof. Sablani, diharapkan peserta termotivasi untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam menciptakan solusi praktis dan efisien di bidang pangan. Perkembangan teknologi seperti pemanasan microwave, integrasi AI, dan kemasan cerdas menunjukkan bahwa kolaborasi antara riset dan kebutuhan konsumen dapat menghasilkan terobosan yang bermanfaat luas. Harapannya, generasi penerus mampu meneruskan semangat inovatif ini untuk menjawab tantangan zaman dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
