MEDAN — Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU) menghadirkan Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Dr. Hendro Nugroho, S.T., M.Si., sebagai narasumber pada hari ketiga Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FP USU Tahun 2026, Jumat (14/8/2026), di Gelanggang Mahasiswa USU.
Mengangkat materi “Ketahanan Pangan sebagai Fondasi Pembangunan Nasional”, Dr. Hendro memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai keterkaitan kondisi cuaca dan iklim dengan sektor pertanian. Materi yang disampaikan mencakup pemantauan cuaca dan iklim di Indonesia, kondisi iklim Sumatera Utara, fenomena El Niño dan La Niña, perubahan iklim, hingga peran BMKG dan perguruan tinggi dalam mendukung pertanian modern.

Dr. Hendro menjelaskan bahwa informasi cuaca dan iklim memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan di sektor pertanian, terutama dalam menentukan waktu tanam, pengelolaan irigasi, pemilihan jenis tanaman, hingga waktu panen. Pemanfaatan informasi tersebut menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan perubahan iklim.
“Informasi iklim yang akurat dan kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk membangun sistem pangan yang tangguh dan mandiri di Sumatera Utara,” ujar Dr. Hendro.
Dalam pemaparannya, ia juga mengajak mahasiswa untuk memahami pentingnya adaptasi perubahan iklim dalam pertanian. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memanfaatkan prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG, melakukan perencanaan musim tanam, menjaga kesehatan tanah dengan bahan organik, serta memperkuat kerja sama dan pengetahuan melalui kelompok tani, pelatihan, dan penyuluhan.
Selain itu, Dr. Hendro memperkenalkan berbagai dukungan teknologi BMKG untuk pertanian modern, seperti sistem observasi otomatis, pemanfaatan satelit dan pemodelan numerik, serta Climate Early Warning System. Menurutnya, pengembangan pertanian ke depan perlu didukung oleh integrasi data iklim, sistem peringatan dini, literasi iklim, pertanian presisi, dan smart agriculture.
“Ke depan, kita perlu memperkuat integrasi data iklim dan sistem peringatan dini, meningkatkan literasi iklim bagi petani, membangun kolaborasi pentahelix yang solid, serta mengembangkan pertanian presisi dan smart agriculture,” jelasnya.

Pemaparan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa baru FP USU. Hal tersebut terlihat dari banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan terkait kondisi iklim, perubahan iklim, ketahanan pangan, serta penerapan informasi cuaca dan iklim dalam sektor pertanian.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan FP USU, para Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Program Studi, serta seluruh mahasiswa baru FP USU Tahun 2026. Kehadiran BBMKG Wilayah I Medan menjadi bagian dari penguatan wawasan mahasiswa mengenai tantangan pertanian masa kini sekaligus pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) tercermin melalui pemberian pengetahuan dan literasi iklim kepada mahasiswa baru sebagai bagian dari penguatan pendidikan yang relevan dengan tantangan pembangunan berkelanjutan. SDG 2 (Tanpa Kelaparan) diwujudkan melalui penguatan wawasan mengenai ketahanan pangan dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Sementara itu, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) tercermin melalui edukasi mengenai perubahan iklim dan strategi adaptasi di sektor pertanian.
Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara FP USU dan BBMKG Wilayah I Medan dalam memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong pemanfaatan informasi iklim untuk mendukung pembangunan pertanian.

Pada akhir sesi, FP USU menyerahkan cendera mata berupa plakat kepada Dr. Hendro Nugroho sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan wawasan yang diberikan kepada mahasiswa baru. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru FP USU diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya informasi iklim, teknologi, inovasi, dan kolaborasi dalam membangun sektor pertanian yang tangguh, berkelanjutan, serta mampu mendukung ketahanan pangan nasional.
