Medan, [6/8] — Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara (FP USU) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) di Aula DH Penny Fakultas Pertanian USU. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya menyempurnakan kurikulum agar semakin relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan dunia industri, serta tantangan pembangunan pangan di masa depan.
FGD menghadirkan perspektif dari berbagai pemangku kepentingan, meliputi perguruan tinggi, instansi pemerintah, industri, asosiasi profesi, alumni, dan mahasiswa. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa kurikulum tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga mampu membentuk kompetensi, karakter, dan kesiapan lulusan untuk berkontribusi di masyarakat.
Dalam sesi pertama, Prof. Dr. Ir. Tyas Utami, M.Sc., Ketua Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, menyampaikan materi mengenai Implementasi Outcome-Based Education dalam Pengembangan Kurikulum Teknologi Pangan. Praktik penyusunan kurikulum di UGM menjadi salah satu bahan pembanding (benchmark) bagi pengembangan kurikulum Teknologi Pangan USU. Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Eko Hari Purnomo, S.T.P., M.Sc., Guru Besar Institut Teknologi Pangan, IPB University, membahas Kompetensi Lulusan Teknologi Pangan Menghadapi Industri Pangan 5.0. Dalam pendekatan OBE, kurikulum, proses pembelajaran, dan sistem penilaian harus dirancang secara terintegrasi sehingga capaian pembelajaran benar-benar dapat diukur melalui kompetensi yang dimiliki mahasiswa.
Kurikulum yang Lebih Relevan dengan Kebutuhan Industri dan Masyarakat
FGD menghasilkan sejumlah masukan strategis untuk penyempurnaan kurikulum. Di antaranya adalah penajaman Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), CPMK, dan Sub-CPMK agar lebih spesifik dan terukur, pembaruan referensi pembelajaran, penyusunan rubrik penilaian yang lebih jelas, serta evaluasi terhadap mata kuliah yang memiliki bahan kajian tumpang tindih atau kurang relevan dengan arah pengembangan Program Studi.
Para mitra juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan industri pangan, antara lain keamanan pangan, HACCP, ISO, GMP, pengendalian mutu, teknologi manufaktur, otomatisasi, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), manajemen pangan, kewirausahaan, audit, serta sertifikasi kompetensi.Selain itu, kurikulum diarahkan agar semakin memperkuat karakteristik dan potensi pangan Sumatera Utara. Beberapa masukan mencakup pengembangan komoditas kakao, kelapa, sawit, tebu, dan umbi-umbian lokal, termasuk penguatan pemahaman mengenai hilirisasi CPO sebagai salah satu komoditas strategis Sumatera Utara. Penguatan pembelajaran berbasis pengalaman juga menjadi perhatian. Program magang, praktik lapangan, keterlibatan industri, serta pembelajaran yang lebih aplikatif dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.
Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals
Penyempurnaan Kurikulum OBE Prodi Teknologi Pangan FP USU juga memiliki keterkaitan strategis dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Lima tujuan yang relevan dengan substansi FGD meliputi:
1. SDG 1 – No Poverty (Tanpa Kemiskinan)
Kurikulum yang memperkuat kompetensi teknologi pangan, kewirausahaan, manajemen bisnis, dan hilirisasi hasil pertanian dapat membekali mahasiswa untuk menciptakan nilai tambah dari sumber daya pangan lokal. Penguatan food entrepreneurship dan kemampuan mengembangkan sekaligus memasarkan produk dapat membuka peluang lahirnya inovasi dan usaha pangan baru. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 1 untuk memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan ketahanan kelompok masyarakat terhadap berbagai kerentanan.
2. SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan)
Teknologi pangan memiliki peran langsung dalam mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan teknologi pengolahan, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, keamanan pangan, pangan bergizi, serta inovasi produk pangan. Masukan FGD mengenai inovasi pengolahan umbi-umbian lokal, hilirisasi komoditas perkebunan, dan penguatan keamanan pangan menunjukkan pentingnya kurikulum dalam menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap sistem pangan yang aman, cukup, dan berkelanjutan. SDG 2 sendiri menekankan penghapusan kelaparan, ketahanan pangan, perbaikan gizi, dan pertanian berkelanjutan.
3. SDG 3 – Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)
Penguatan materi food safety, HACCP, GMP, ISO, pengendalian mutu, regulasi keamanan pangan, serta pengembangan pangan fungsional menjadi bagian penting dalam menghasilkan lulusan yang memahami hubungan antara mutu pangan, keamanan pangan, dan kesehatan masyarakat. Kurikulum yang membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk memastikan pangan aman dan bermutu pada akhirnya mendukung terciptanya lingkungan pangan yang lebih sehat.
4. SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
FGD Kurikulum OBE secara langsung mendukung SDG 4 melalui pengembangan pendidikan tinggi yang berorientasi pada capaian pembelajaran. Dalam OBE, proses pembelajaran, kurikulum, dan sistem penilaian harus terhubung secara konsisten. FGD juga mendorong pembelajaran aktif, penilaian yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif, serta penguatan pengalaman belajar melalui magang dan pembelajaran di luar kampus. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan pembelajaran yang relevan dan efektif bagi mahasiswa. SDG 4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar sepanjang hayat.
5. SDG 17 – Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Salah satu kekuatan utama FGD adalah keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses penyusunan kurikulum. Perguruan tinggi, industri, instansi pemerintah, asosiasi profesi, alumni, dan mahasiswa memberikan perspektif yang berbeda untuk memastikan kurikulum memiliki relevansi akademik sekaligus relevansi praktis. Kolaborasi tersebut memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja serta membuka peluang pengembangan kerja sama dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, magang, sertifikasi kompetensi, dan pengembangan inovasi. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 17 yang menempatkan kemitraan sebagai instrumen penting dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan.
Menuju Kurikulum Teknologi Pangan yang Future-Ready
Hasil FGD selanjutnya akan menjadi bahan penting bagi Prodi Teknologi Pangan FP USU dalam melakukan penyempurnaan rancangan kurikulum. Beberapa agenda tindak lanjut yang dirumuskan mencakup penajaman CPL, CPMK, dan Sub-CPMK; pembaruan referensi dan rubrik penilaian; penataan mata kuliah; penguatan keamanan pangan, manajemen, kewirausahaan, dan teknologi terkini termasuk AI; serta penguatan program magang, sertifikasi kompetensi, dan pembentukan karakter mahasiswa.
Melalui implementasi Kurikulum OBE, Prodi Teknologi Pangan FP USU berkomitmen untuk membangun sistem pendidikan yang lebih relevan, adaptif, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Kurikulum tidak hanya diposisikan sebagai perangkat pembelajaran, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap penguatan sistem pangan, kesehatan masyarakat, pengembangan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, serta pembangunan berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan perbaikan berkelanjutan, Prodi Teknologi Pangan FP USU terus melangkah untuk menghasilkan lulusan yang unggul, inovatif, berkarakter, dan siap menghadapi transformasi industri pangan menuju era 5.0.