Medan, 13 Agustus 2026 — Rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU) Tahun 2026 memasuki hari kedua pelaksanaan pada Rabu (13/8). Bertempat di Gelanggang Mahasiswa USU, kegiatan menghadirkan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Abdul Khalim, sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa baru FP USU Tahun 2026 dan turut dihadiri oleh Dekan FP USU, para Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Program Studi, serta jajaran sivitas akademika FP USU.

Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Pertanian adalah Masa Depan”, Abdul Khalim memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk melihat bidang pertanian sebagai sektor strategis yang memiliki peluang besar dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Kalian tidak salah memilih Pertanian. Pertanian bukan masa lalu. Pertanian adalah masa depan,” ujar Abdul Khalim kepada mahasiswa baru FP USU.



Ia menjelaskan bahwa transformasi pertanian membutuhkan kolaborasi yang erat antara kampus, dunia usaha, pemerintah, dan petani. Kampus berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi teknologi, serta sumber daya manusia. Dunia usaha berperan melalui investasi, pembiayaan, akses pasar, kemitraan, dan hilirisasi. Pemerintah memiliki peran dalam menghadirkan kebijakan, infrastruktur, fasilitas, regulasi, dan insentif, sementara petani menjadi penggerak utama produksi dengan mengandalkan kualitas produk, kearifan lokal, serta pengalaman lapangan.

“Tidak ada transformasi pertanian tanpa kolaborasi,” tegasnya.

Mempersiapkan Sarjana Pertanian Menghadapi Masa Depan

Abdul Khalim juga mengingatkan mahasiswa baru bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya bertujuan memperoleh gelar, tetapi juga membangun kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman. Selama empat tahun ke depan, mahasiswa pertanian didorong untuk menguasai fundamental ilmu pertanian, teknologi digital, data dan kecerdasan buatan (AI), kemampuan komunikasi, serta membangun jejaring dengan industri, pemerintah, dan lembaga riset.

Mahasiswa juga didorong untuk menghasilkan karya melalui proyek, penelitian, maupun pengembangan bisnis. Menurutnya, lulusan pertanian memiliki beragam pilihan karier, mulai dari agripreneur, peneliti, data analyst, inovator, eksportir, pembuat kebijakan, hingga bidang pembiayaan dan investasi.

“Satu ilmu. Banyak jalan. Jangan hanya mencari pekerjaan di sektor pertanian. Ciptakan masa depan sektor pertanian,” pesan Abdul Khalim.

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan “The New Farmer”, yakni generasi pertanian yang tidak sekadar meneruskan aktivitas pertanian, tetapi mampu mentransformasikannya menjadi lebih produktif, berbasis teknologi dan data, berorientasi pasar, memiliki jiwa kewirausahaan, serta berkelanjutan.

Pertanian dan Stabilitas Ekonomi

Dalam sesi tersebut, Abdul Khalim juga menjelaskan keterkaitan erat antara sektor pertanian, ketahanan pangan, inflasi, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi. Produksi pangan yang kuat akan berkontribusi terhadap ketersediaan pangan dan stabilitas harga, yang pada akhirnya turut menjaga daya beli serta kesejahteraan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Apabila tidak terkendali, inflasi dapat menurunkan daya beli, meningkatkan ketidakpastian, dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, Bank Indonesia memiliki perhatian terhadap sektor pertanian karena terdapat hubungan yang erat antara produksi pertanian, harga pangan, inflasi, daya beli, kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan materi yang disampaikan, sejumlah komoditas turut memberikan andil terhadap inflasi dan deflasi pada Juli 2026. Komoditas penyumbang inflasi antara lain cabai rawit, beras, tomat, bensin, dan daging ayam ras. Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi antara lain bawang merah, emas perhiasan, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, jeruk, dan telur ayam ras.

Abdul Khalim menekankan bahwa gejolak harga pangan dapat dipengaruhi oleh produksi yang bersifat musiman, pasokan dan distribusi yang belum stabil, serta masih terbatasnya penerapan teknologi pertanian.

“Inflasi bukan musuh petani. Masalahnya bukan hanya harga, tetapi bagaimana nilai dibagi sepanjang rantai,” jelasnya.

Ia juga memaparkan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam mendukung swasembada pangan dan menjaga stabilitas harga pangan melalui penguatan koordinasi program pusat dan daerah serta peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap komitmen menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga.

Interaktif dan Dekat dengan Mahasiswa

Sesi pemaparan berlangsung interaktif. Mahasiswa baru FP USU antusias menyampaikan berbagai pertanyaan terkait masa depan sektor pertanian, peluang karier, teknologi, kewirausahaan, hingga tantangan pembangunan pertanian.

Untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa, Bank Indonesia juga mengadakan kuis di sela-sela kegiatan. Sejumlah mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah.




Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cendera mata berupa plakat Fakultas Pertanian USU kepada Bank Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan partisipasi dalam kegiatan PKKMB FP USU 2026. Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama narasumber, pimpinan fakultas, dan mahasiswa baru.

Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan PKKMB dengan materi mengenai masa depan pertanian, inovasi, teknologi, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan ini memiliki keterkaitan erat dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, SDG 2: Zero Hunger, melalui penguatan wawasan mahasiswa mengenai ketahanan pangan, produktivitas pertanian, dan pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan. Kedua, SDG 4: Quality Education, melalui pembekalan pengetahuan dan kompetensi kepada mahasiswa baru untuk menghadapi tantangan dunia kerja dan pembangunan masa depan. Ketiga, SDG 8: Decent Work and Economic Growth, melalui dorongan terhadap kewirausahaan, inovasi, investasi, dan penciptaan peluang ekonomi di sektor pertanian. Keempat, SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pemanfaatan teknologi, data, AI, riset, dan inovasi untuk mendukung transformasi pertanian.

Selain itu, semangat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, Bank Indonesia, dan petani juga sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kemitraan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.




Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru FP USU diharapkan tidak hanya memahami bahwa pertanian merupakan sektor penting bagi kehidupan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari transformasinya. Generasi muda pertanian diharapkan mampu menghadirkan inovasi, membangun usaha, menghasilkan riset, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan solusi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.

Pertanian bukan sekadar bidang untuk dipelajari, tetapi sektor strategis yang perlu dipersiapkan untuk masa depan Indonesia.