Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU) melalui Program Studi S1 Peternakan dan S2 Ilmu Peternakan menggelar Kuliah Umum Internasional bertema “Advancing Sustainable Livestock Production in ASEAN: Integrating Agribusiness, Animal Health, and Innovative Feed Resources”, Jumat (4/9/2026). Kegiatan berlangsung secara hybrid di Gedung D.H. Peny dan Zoom Meeting, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Salah satu narasumber, Prof. Dato Seri Ashraf Bakar, Founder & CEO Aliyah Rizq Holdings, menyampaikan materi “Sustainable Small Ruminants Production in ASEAN - Integrating Traditional System Into Lucrative Agribusiness Model”. Ia membagikan pengalaman Aliyah Rizq yang didirikan pada 2015 sebagai peternakan keluarga di Mersing, Malaysia, dan berkembang menjadi perusahaan rantai pasok ternak halal regional.

Prof. Ashraf menekankan bahwa sistem peternakan tradisional memiliki potensi untuk dikembangkan melalui integrasi dengan model agribisnis modern.


“The traditional livestock system does not need to be replaced; it needs to be integrated into a modern, circular, and commercially viable agribusiness framework.”


Salah satu perhatian utama dalam pengembangan peternakan adalah efisiensi pakan. Prof. Ashraf mendorong pemanfaatan hasil samping perkebunan, seperti bungkil inti sawit, pelepah sawit, dan limbah kakao, sebagai bahan baku pakan melalui inovasi teknologi fermentasi.


“We need to look at agricultural waste not as waste, but as a valuable resource that can be upcycled into nutritious feed and create a more sustainable livestock system.”


Konsep tersebut dikembangkan melalui Integrated Crop-Livestock System (ICLS), dengan menghubungkan pertanian dan peternakan dalam satu siklus. Hasil samping pertanian dimanfaatkan sebagai pakan, sementara limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk organik dan biogas sehingga menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan mendekati konsep zero waste.






Selain produksi, Prof. Ashraf menyoroti pentingnya kesehatan ternak, biosekuriti, legalitas, serta keterlacakan dalam membangun rantai pasok ternak lintas negara. Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi dan industri diperlukan untuk mengubah hasil riset menjadi solusi yang dapat diterapkan di lapangan.


“Collaboration between universities and industry is important to turn research and innovation into practical solutions for farmers and the livestock industry.”


Komitmen kolaborasi tersebut turut diperkuat melalui penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara FP USU dan Aliyah Rizq Holdings sebagai langkah tindak lanjut kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengembangan kompetensi, serta kegiatan akademik dan profesional.


Kepada mahasiswa, Prof. Ashraf juga mendorong generasi muda peternakan untuk melihat sektor peternakan sebagai peluang kewirausahaan, bukan hanya sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan.


“Don’t only think about getting a job. Think about how you can create value, build a business, and create opportunities for others through livestock.”


Melalui kegiatan ini, FP USU terus memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring akademik dan industri untuk mendukung pengembangan peternakan yang inovatif dan berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).