Medan, 5 September 2026 — Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU), bersama berbagai pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan melalui kegiatan Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 571. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 1–3 September 2026, di Gedung DH Penny FP USU.
Kegiatan tersebut melibatkan unsur perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, organisasi konservasi, dan pemangku kepentingan bidang perikanan, di antaranya FP USU, Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia, Unit Pengelola Perikanan (UPP) WPPNRI 571, Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Belawan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Konservasi Alam Wisata, serta para narasumber, fasilitator, dosen, dan mahasiswa Program Studi MSP FP USU.
Dalam sambutannya, Dekan FP USU Dr. Rulianda Purnomo Wibowo menyampaikan bahwa FP USU memiliki cakupan keilmuan yang luas, tidak hanya pada bidang pertanian, tetapi juga perikanan dan peternakan. Hal tersebut tercermin dari enam program studi yang berada di bawah FP USU, yaitu Agribisnis, Agroteknologi, Peternakan, Teknologi Pangan, Teknik Pertanian dan Biosistem, serta Manajemen Sumberdaya Perairan.
Dekan juga menyampaikan bahwa Program Studi MSP merupakan program studi termuda di FP USU, namun menunjukkan perkembangan yang pesat. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum workshop, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan dalam bidang penelitian, kajian, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat bagi pengelolaan sumber daya perairan.
“Setiap instansi memiliki peran masing-masing. Peran kita adalah memberikan masukan berbasis kajian yang nantinya dapat digunakan oleh lembaga pemerintah dalam menyusun kebijakan,” ujar Dekan.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus mempertimbangkan keseimbangan antara tingkat eksploitasi dan kemampuan sumber daya untuk pulih. Kondisi lingkungan dan sumber daya perairan juga bersifat dinamis sehingga kajian perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Kalau daya tangkap lebih besar daripada kemampuan lingkungan untuk melakukan regrowth, yang terjadi adalah ketidakberlanjutan. Karena itu, kajian seperti ini harus dilakukan terus sepanjang tahun,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan MSC Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya merespons masih rendahnya sejumlah indikator pengelolaan dan persebaran sumber daya ikan di wilayah Sumatra dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Penguatan kapasitas melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan diharapkan dapat mendukung upaya perbaikan pengelolaan sumber daya ikan di wilayah tersebut.
Kepala Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan, Widodo, S.Pi., M.Sc., yang mewakili Koordinator Eksekutif UPP WPPNRI 571, Mutiara Paramita Tarigan, S.St.Pi., M.Pi., menyampaikan bahwa ketersediaan informasi mengenai kondisi stok sumber daya ikan merupakan hal penting dalam mewujudkan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pengkajian stok diperlukan untuk mengetahui kondisi sumber daya ikan, tingkat pemanfaatannya, serta berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberlanjutan populasi ikan. Hasil pengkajian diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan pengelolaan perikanan sehingga pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan secara optimal dan terukur dengan tetap memperhatikan daya dukung serta kelestarian ekosistem.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, nelayan, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun pola pengelolaan perikanan berbasis data dan ilmu pengetahuan.
Penandatanganan MoA FP USU dan PPS Belawan
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pada hari pertama, FP USU dan Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Belawan juga melaksanakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA). Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FP USU bersama Kepala PPS Belawan atau perwakilannya.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan institusi pengelola perikanan. Melalui kerja sama ini, diharapkan terbuka peluang pengembangan kegiatan pendidikan, penelitian, kajian, serta pertukaran pengetahuan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan.

Setelah rangkaian pembukaan dan penandatanganan MoA, kegiatan dilanjutkan dengan sesi teknis pengkajian stok perikanan cumi-cumi di WPPNRI 571. Peserta mendapatkan materi mengenai model pengkajian stok, persiapan dan verifikasi data, finalisasi data, pemilihan prior analysis, serta pengolahan data menggunakan metode JABBA dan cMSY.
Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan pembahasan konsep dasar pengkajian stok sumber daya ikan, kebutuhan data, metode pengkajian stok perikanan, serta pembagian kelompok berdasarkan komoditas yang memiliki ketersediaan data.
Peserta juga mendapatkan pengenalan R dan RStudio sebagai perangkat untuk pengolahan data dalam pengkajian stok ikan. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik analisis data pengkajian stok sumber daya ikan secara berkelompok dengan pendampingan fasilitator.
Memasuki hari ketiga, peserta melakukan finalisasi hasil analisis dan mempresentasikan hasil analisis kelompok untuk selanjutnya dibahas melalui diskusi. Sesi tersebut dilanjutkan dengan interpretasi hasil pengkajian stok yang mencakup status stok, potensi sumber daya, dan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB).
Pembahasan juga mencakup pemanfaatan hasil pengkajian stok dalam penyusunan harvest strategy dan harvest control rules, serta studi kasus pengkajian stok perikanan cumi-cumi di WPPNRI 571. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rekomendasi hasil pengkajian stok sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan sumber daya perikanan di WPPNRI 571.
Melalui kegiatan tersebut, Program Studi MSP FP USU terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan kajian ilmiah dan rekomendasi berbasis data yang dapat mendukung pengambilan kebijakan di bidang perikanan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu mendorong pemanfaatan sumber daya ikan secara optimal, terukur, dan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui upaya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, organisasi konservasi, dan pemangku kepentingan lainnya.