Kelompok Tani Suka Maju di Desa Suka, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini tengah menikmati hasil revolusi pertanian sederhana namun berdampak besar. Lewat program pengabdian kepada masyarakat dengan tim dosen dari Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yaitu Prof. Dr. Ir. Luhut Sihombing, M.P.; Helova Leonard Panjaitan, S.P., M.P.; Ir. Peni Patriani, S.Pt., M.P., IPM, ASEAN Eng, dan Ir. Tati Vidiana Sari, S.Pt., M.P., IPM melatih para Petani sehingga berhasil memanfaatkan kotoran ternak kambing yang sebelumnya menjadi sumber polusi, menjadi pupuk organik fermentasi yakni Bokashi. Keberhasilan ini dapat mengatasi masalah lingkungan dan memutus ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal.
“Sejak menerapkan pupuk bokashi, kami sekarang tidak lagi bergantung pada pupuk kimia. Pupuk kimia selain harganya fluktuatif dan mahal, pasokannya juga tidak stabil,” ujar Alexandro Ginting salah satu petani di Desa Suka.
Tim fasilitator dari Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara kemudian mengenalkan teknologi Bokashi, metode pengomposan cepat melalui fermentasi. Secara teknis, Bokashi jauh lebih singkat dan efisien, memungkinkan petani untuk mengatasi penumpukan limbah dalam hitungan hari.
Program yang dilaksanakan melalui penyuluhan, pelatihan intensif, dan pendampingan ini menunjukkan tingkat keberhasilan mencapai lebih dari 85%. Mayoritas anggota Kelompok Tani Suka Maju berhasil menguasai ilmu dan keterampilan teknis memproduksi Bokashi secara mandiri. Dampak positifnya langsung terasa yakni sekitar 81% petani kini rutin mengumpulkan dan mengolah semua kotoran ternak. Bau tak sedap dan gangguan lalat di lingkungan peternakan dilaporkan berkurang drastis, meningkatkan sanitasi dan kesadaran lingkungan petani. Penerapan Bokashi pada tanaman sayuran seperti kubis, kentang, dan cabai, terbukti mampu meningkatkan kualitas hasil panen, membuat tanaman lebih subur, dan memperbaiki daya tahan tanah dalam menahan air.
Dari sisi ekonomi, data menunjukkan sebanyak 89% petani mengkonfirmasi bahwa penggunaan Bokashi telah mengurangi biaya pengeluaran untuk membeli pupuk kimia. Efisiensi biaya ini, dipadukan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas panen, langsung berkorelasi dengan peningkatan pendapatan.
“Sekarang kami tidak lagi khawatir dengan harga pupuk. Kami bisa memproduksi sendiri dari limbah ternak. Rasa kemandirian ekonomi ini yang paling berharga,” kata seorang petani yakni Pleton Ginting.
Keberhasilan program ini dapat menjadi model percontohan bagi wilayah lain karena menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah ternak adalah strategi yang efektif untuk mewujudkan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan.
