Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan dengan sumber pendanaan Non-PNBP LPPM USU tahun 2026. Program bertajuk “Model Desa Tangguh Banjir melalui Integrasi Budidaya Ikan, Peternakan, dan Pertanian Berbasis Pemberdayaan Petani, Peternak, dan Kelompok PKK di Desa Cempa Kabupaten Langkat” , dimana kegiatan ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Elisa Julianti, M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si., Dr. Ridwansyah, S.TP., M.Si., Julia Syahriani Hasibuan, S.Pi., M.Si., Harya Bimasuci W., S.Pi., M.Si., Muhammad Adanan Purba, S.Pt., M.Sc., PhD., dan Siti Basyariah Putri Lubis, S.TP., M.Si., dari Fakultas Pertanian USU mengembangkan Model Desa Tangguh Banjir melalui integrasi budidaya ikan, peternakan dan pertanian berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa Cempa, Kabupaten Langkat secara multitahun pada 2026–2028.

Desa Cempa memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Sektor pertanian menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat dengan komoditas kelapa sawit yang produksinya mencapai sekitar 83.000 ton per tahun. Selain itu, terdapat potensi hortikultura berupa jeruk sekitar 150 ton per tahun dan jambu madu. Di sektor peternakan, masyarakat mengembangkan ayam ras, puyuh, kambing dan sapi. Sementara sektor perikanan antara lain ditopang budidaya ikan lele dengan produksi sekitar 1,5 ton per tahun.

Potensi tersebut juga didukung berbagai UMKM masyarakat, seperti tempe, sate, keripik pisang dan ubi serta produk berbahan lidi sawit. Desa Cempa juga memiliki potensi wisata alam berupa sungai dan parit yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata lokal berbasis alam dan edukasi.

Namun, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Salah satu kendala utama adalah banjir tahunan yang terjadi terutama pada musim penghujan. Genangan bahkan dapat berlangsung hingga sekitar dua bulan sehingga menghambat kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan, merusak infrastruktur, serta mengganggu transportasi dan distribusi hasil produksi masyarakat.

Pada sektor perikanan, misalnya, budidaya masih dilakukan secara tradisional dengan kolam atau keramba sederhana. Salah seorang pembudidaya ikan gurami melaporkan dari 5.000 ekor benih yang ditebar hanya sekitar 1.000 ekor yang bertahan hingga panen. Tingkat mortalitas yang mencapai sekitar 80 persen tersebut menunjukkan perlunya perbaikan teknologi dan manajemen budidaya, khususnya dalam pengelolaan kualitas air.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim Fakultas Pertanian USU memberikan dua unit kolam bioflok yang dilengkapi aerator dan peralatan untuk memonitor kualitas air,benih, bahan dan peralatan untuk pembangunan demplot budidaya sayuran organik, alat chopper serta pelatihan pembuatan pakan silase dan Total Mixed Ration (TMR) untuk mengatasi keterbatasan pakan dan meningkatkan kualitas nutrisi ternak. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan dan efisiensi budidaya ikan masyarakat.

Tim juga memberikan pelatihan pengolahan pangan berbasis komoditas lokal untuk pemberdayaan terhadap kelompok ibu-ibu PKK. Produk yang dikembangkan antara lain abon dan kerupuk ikan, nugget dan bakso jamur tiram serta telur puyuh asin. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga.





Pada program Desa Binaan ini, Mitra akan mendapatkan pendampingan yang berlangsung hingga 2028. Pendampingan mencakup peningkatan produksi, pengelolaan keuangan menggunakan aplikasi sederhana dan strategi pemasaran secara online. Mahasiswa turut dilibatkan dalam evaluasi penerapan teknologi, pencatatan transaksi dan pemantauan perkembangan pasar. Melalui program ini diharapkan Desa Cempa tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap banjir sehingga tumbuh menjadi desa yang mandiri, produktif dan tangguh secara berkelanjutan.

Program pengabdian ini mendukung pencapaian SDG 1, SDG 2, SDG 5, SDG 12, SDG 13 dan SDG 17, terutama dalam pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, produksi berkelanjutan, adaptasi terhadap perubahan iklim dan penguatan kemitraan.