Medan – FP USU: Kuliah Umum dengan tema “Recent Advances in Animal Product and Production” telah sukses diselenggarakan secara hybrid di Ruang Seminar Gedung DH. Penny pada Selasa, 15 November 2022.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Peternakan, Dr. Ir. Ma’aruf Tafsin, M.Si., dan pembukaan acara secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Ir. Tavi Supriana, M.S. Acara ini menghadirkan narasumber luar biasa dari dua negara yang ahli di bidangnya.


Sebelum kuliah umum dimulai, dilakukan pemberian cendera mata dan prosesi mengulosi, disertai sesi foto bersama keempat narasumber, yaitu:
Prof. Dr. Awis Qurni Sazili (Malaysia) oleh Dekan Fakultas Pertanian.
Prof. Dr. Khalilah Abdul Khalil (Malaysia) oleh Ketua Program Studi Peternakan.
Asst. Prof. Dr. Ulisa Pachekreparpol (Thailand) oleh Ketua Program Studi Magister Ilmu Peternakan.
Asst. Prof. Dr. Paramaporn Kerdsup (Thailand) oleh Ketua Program Studi Magister Ilmu Pangan.


Materi Kuliah Umum:
Prof. Dr. Awis Qurni Sazili dari Universitas Putra Malaysia membawakan materi bertema “Humane Killing of Animals for Halal Meat Consumption”. Beliau menyampaikan bahwa terdapat tiga aspek kualitas yang penting dalam pengembangan produk peternakan: kualitas budidaya peternakan, kualitas produk hasil peternakan, dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup konsumen. Beliau menekankan, “Kualitas manusia tercermin dari apa yang kita makan.”
Prof. Dr. Khalilah Abdul Khalil dari University Technology MARA (UiTM) membawakan materi berjudul “Novel Insight of Postbiotic and Parabiotic Produced by Probiotic for Agriculture”. Beliau menjelaskan pentingnya sistem pangan yang sehat, berkelanjutan, dan inklusif untuk mencapai tujuan pembangunan global. Peningkatan populasi dunia yang diproyeksikan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050 menuntut inovasi di sektor pertanian dan peternakan agar mampu memenuhi kebutuhan pangan.
Asst. Prof. Dr. Ulisa Pachekreparpol dari Srinakharinwirot University Thailand menyampaikan materi berjudul “Milk and Animal Food Products”. Beliau mengungkapkan bahwa meskipun produk susu hewani memiliki keunggulan, tantangan seperti intoleransi laktosa dan alergi terhadap protein susu sapi tetap ada. Untuk mengatasi hal tersebut, beliau mengembangkan produk yogurt kelapa yang lebih ramah bagi konsumen dan dapat diproduksi secara berkelanjutan.
Asst. Prof. Dr. Paramaporn Kerdsup dari Srinakharinwirot University Thailand membawakan materi bertema “Probiotic Bacteria”. Beliau menjelaskan bahwa probiotik, sebagaimana didefinisikan oleh WHO, adalah “mikroorganisme hidup yang, jika diberikan dalam jumlah yang cukup, memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya.” Yogurt disebut sebagai salah satu produk probiotik terbaik yang paling populer.




Kuliah umum yang dipandu oleh moderator Dr. Ir. Hotnida Sinaga, M.Phill., selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Pangan Fakultas Pertanian, berlangsung dengan antusias. Mahasiswa dan dosen FP USU mengikuti seluruh rangkaian kegiatan baik secara langsung maupun daring. Setiap sesi pemaparan materi juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi secara lebih mendalam dengan para narasumber mengenai perkembangan produk dan produksi peternakan.
Kegiatan ditutup dengan kata penutup yang disampaikan oleh Dr. Ir. Hotnida Sinaga, M.Phill. Melalui kegiatan ini, FP USU tidak hanya memberikan pengayaan akademik kepada sivitas akademika, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan akademisi internasional dalam pengembangan sektor peternakan dan pangan.
Penyelenggaraan kuliah umum ini sejalan dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan inovasi untuk mendukung ketersediaan dan ketahanan pangan, serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pembahasan mengenai kualitas pangan, probiotik, dan produk pangan yang mendukung kesehatan. Aspek produksi yang berkelanjutan juga mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Selain itu, keterlibatan akademisi dari Malaysia dan Thailand dalam kegiatan akademik ini turut memperkuat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pertukaran pengetahuan dan kolaborasi pendidikan tinggi lintas negara.

