Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU) menyelenggarakan kuliah umum bertema “Sinergi Bank Indonesia dalam Mendukung Asta Cita: Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani melalui Modernisasi dan Hilirisasi Pertanian” di Aula Suratman FP USU, Senin (09/02).

Kegiatan ini menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Dr. Rudy Brando Hutabarat, sebagai pemateri, dengan Dr. Rulianda Purnomo Wibowo, S.P., M.Ec., Ketua Program Studi Agribisnis FP USU, sebagai moderator. Acara dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa lintas fakultas sebagai wadah penguatan pemahaman mengenai peran strategis sektor pertanian dalam menjaga stabilitas ekonomi dan pengendalian inflasi daerah.

Acara dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Pertanian USU, Prof. Dr. Ir. Tavi Supriana, MS. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan dalam menjawab tantangan sektor pertanian, khususnya dalam meningkatkan produktivitas, nilai tambah, serta kesejahteraan petani di Sumatera Utara. Ia juga berharap kegiatan ini mampu memperluas wawasan mahasiswa terkait keterkaitan sektor pertanian dengan dinamika ekonomi makro dan kebijakan moneter.

Memasuki sesi utama, Dr. Rudy Brando Hutabarat memaparkan kondisi dan tantangan perekonomian Sumatera Utara. Ia menjelaskan bahwa transformasi ekonomi Indonesia diarahkan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi, berkelanjutan, dan inklusif guna menghindari middle income trap. Periode 2025–2029 disebut sebagai fase “penguatan fondasi ekonomi” melalui hilirisasi, riset dan inovasi, serta peningkatan produktivitas.


Secara regional, perekonomian Sumatera Utara masih ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, sektor industri menunjukkan tren penurunan, sementara pangsa pertanian cenderung meningkat. Kondisi ini dihadapkan pada tantangan berupa perlambatan konsumsi, penurunan belanja pemerintah, serta dampak bencana alam.

Dalam konteks penguatan fondasi ekonomi tersebut, Dr. Rudy menekankan bahwa investasi harus berbasis pada penguatan sektor riil dan peningkatan pendapatan masyarakat. Tanpa adanya pendapatan yang stabil dari aktivitas produktif, investasi tidak akan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Investasi boleh, investasi harus. Tetapi bagi yang punya pendapatan kerja. Kalau tidak punya pendapatan kerja, istilah saya sama saja dengan bohong,” ujarnya.

Dari sisi inflasi, kelompok makanan menjadi sumber tekanan utama. Rata-rata sumbangan inflasi kelompok makanan sepanjang 2022 hingga Januari 2026 mencapai 54,62 persen terhadap total inflasi bulanan. Kenaikan harga beras dan komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit—yang dipengaruhi faktor musiman serta terbatasnya penggunaan teknologi pertanian—menjadi pemicu utama volatilitas harga dan berdampak pada daya beli masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan utama sektor pertanian, antara lain rendahnya mekanisasi, keterbatasan sumber daya manusia dan penyuluh, minimnya regenerasi petani muda, serta terbatasnya pengolahan pascapanen dan hilirisasi yang menyebabkan rendahnya nilai tambah produk.

Sebagai respons, Bank Indonesia mendorong transformasi pertanian melalui modernisasi, penguatan kelembagaan, peningkatan investasi, dan pembangunan ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Strategi pengendalian inflasi yang tepat diharapkan mampu melindungi masyarakat kecil, mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa dan dosen antusias mengajukan pertanyaan terkait peran Bank Indonesia dalam stabilisasi harga pangan, peluang hilirisasi berbasis inovasi kampus, hingga strategi mendorong regenerasi petani muda.

Sebagai bentuk apresiasi dan penguatan sinergi kelembagaan, acara ditutup dengan serah terima cendera mata antara Fakultas Pertanian USU dan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Rangkaian kegiatan semakin meriah dengan kuis interaktif yang diselenggarakan oleh panitia Bank Indonesia dan diikuti secara aktif oleh mahasiswa.


Melalui sinergi triple helix antara Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, dan perguruan tinggi, kolaborasi diarahkan pada penguatan kampus sebagai pusat pengembangan produktivitas pangan, hilirisasi berbasis inovasi, serta penguatan peran perguruan tinggi sebagai think tank dan inkubator sumber daya manusia pertanian.

Kuliah umum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong modernisasi dan hilirisasi pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan sekaligus pengendali inflasi di Sumatera Utara.