Medan, 28 Juli 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk "Impacts and Risks of Climate Change on Indonesia's Agricultural Sector" yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian USU, Dr. Rulianda Purnomo Wibowo, S.P., M.Ec., di Classroom I Fakultas Pertanian USU, Selasa (28/7). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian World Friends Korea (WFK) Youth Volunteer Program 2026 yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Fakultas Pertanian USU dan Kajami's Table sebagai mitra dalam memfasilitasi pertukaran akademik, budaya, dan kerelawanan internasional.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Pertanian USU yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program kolaborasi internasional tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa Indonesia dan Korea untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman, serta perspektif dalam menghadapi berbagai tantangan global, khususnya di bidang pertanian dan perubahan iklim.

"Today is not only about you coming here, but also a moment for everyone to share knowledge and perspectives. We have so much to learn from one another through our different experiences, cultures, and ideas. We hope this opportunity will strengthen our mutual understanding and help us build a better and more sustainable future together," ujar Dr. Rulianda.

Chief Executive Officer Kajami's Table, Sohee Eom, turut menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh Fakultas Pertanian USU. Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan serta memperoleh pengalaman baru selama mengikuti rangkaian kegiatan di Indonesia.

"There is so much to learn in Indonesia. From this experience, I hope you can gain new knowledge, broaden your perspectives, and build meaningful friendships that will continue beyond this program," kata Sohee Eom.

Dalam kuliah umumnya, Dr. Rulianda memaparkan bahwa perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi sektor pertanian Indonesia. Perubahan pola musim yang semakin sulit diprediksi, meningkatnya kejadian banjir, kekeringan, tanah longsor, dan cuaca ekstrem menyebabkan petani menghadapi ketidakpastian dalam menentukan waktu tanam serta meningkatkan risiko kegagalan panen.

Beliau menjelaskan bahwa kerugian yang dialami petani tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca, tetapi juga dipengaruhi oleh kerentanan sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Ketika produksi pertanian terganggu akibat perubahan iklim, dampaknya dapat meluas ke rantai pasok pangan, distribusi, biaya logistik, harga komoditas, hingga kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, perubahan iklim tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan.



Dalam pemaparannya, Dr. Rulianda juga menjelaskan berbagai strategi untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian melalui penerapan sistem produksi berkelanjutan, seperti penggunaan kalender tanam berbasis informasi iklim, varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman, konservasi tanah dan air, irigasi yang efisien, pengendalian hama terpadu, diversifikasi tanaman, serta penguatan kapasitas adaptasi petani melalui dukungan kelembagaan dan kebijakan.

"Climate change does not only affect the environment, but also agricultural production systems, food supply chains, and farmers' livelihoods. Therefore, strengthening adaptive capacity and building resilient agricultural systems are essential to protect food security and ensure sustainable rural development," jelas Dr. Rulianda.

Beliau juga menegaskan bahwa pendekatan yang paling efektif dalam menghadapi perubahan iklim adalah mengombinasikan inovasi di tingkat petani dengan dukungan kelembagaan, kebijakan, dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan sehingga sektor pertanian mampu beradaptasi sekaligus tetap produktif di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.



Kuliah umum berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti oleh mahasiswa Fakultas Pertanian USU dan mahasiswa dari berbagai universitas di Korea. Berbagai pertanyaan mengenai strategi adaptasi perubahan iklim, penguatan ketahanan pangan, serta peluang kolaborasi internasional menjadi topik utama dalam diskusi tersebut.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, Fakultas Pertanian USU kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap isu perubahan iklim dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyelenggaraan pembelajaran berbasis isu global, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan meningkatkan pemahaman mengenai dampak dan strategi adaptasi perubahan iklim pada sektor pertanian, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama internasional antara Fakultas Pertanian USU dan Kajami's Table dalam penyelenggaraan World Friends Korea Youth Volunteer Program 2026.