Jamur tiram memiliki kandungan gizi berupa 367 kalori, protein 10,5–30,4%, karbohidrat 56,6%, lemak 1,7–2,2%, thiamin 0,20 mg, riboflavin 4,7–4,9 mg, niacin 77,2 mg, dan kalsium 314,0 mg per 100 gram jamur. Produksi jamur tiram saat ini hanya mencapai 37.020 ton, sedangkan konsumsi mencapai 47.753 ton. Limbah produksi berupa baglog mengandung unsur hara makro, di antaranya N (0,6%), P (0,7%), K (0,02%), dan C-organik (49%).
Salah satu produsen jamur tiram di Medan Marelan memiliki produksi harian berkisar 7–12 kg, dengan kapasitas rumah jamur mencapai 7.000 baglog. Rumah Jamur Sadam, selain memproduksi jamur segar, juga menghasilkan berbagai olahan jamur seperti jamur krispi, pepes jamur, sate jamur, dan tahu balik jamur dengan merek “Dapur Jamur” yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI. Namun, rumah produksi ini menghadapi beberapa kendala, seperti ketergantungan pada produsen bibit jamur tiram generasi F0–F2, belum dimanfaatkannya limbah baglog sebagai kompos, serta pemanfaatan kompos dari limbah baglog untuk tanaman budidaya masih perlu dioptimalkan.

Oleh karena itu, dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si., bersama tiga dosen lainnya, yaitu Dr. Nini Rahmawati, S.P., M.Si., Dr. Mariani Br. Sembiring, S.P., M.P., dan Nursa’adah, S.ST., M.Agr., melakukan pengabdian masyarakat di Rumah Jamur Sadam, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.
Rangkaian kegiatan pengabdian ini meliputi:
Pelatihan dan praktik pembuatan bibit jamur tiram generasi F0–F2.
Praktik pembuatan kompos dari limbah baglog jamur tiram.
Pemanfaatan kompos baglog jamur tiram pada tanaman kacang hijau.
Serah terima barang alih teknologi.

Kegiatan pengabdian mendapat sambutan positif dari mitra Rumah Jamur Sadam dan masyarakat peserta pelatihan di Kelurahan Rengas Pulau. Peserta menunjukkan antusiasme dalam mengikuti materi dan praktik secara langsung, mulai dari pembuatan media biakan dan bibit jamur tiram generasi F0–F2 hingga pengolahan limbah baglog menjadi kompos dan pemanfaatannya pada tanaman budidaya.
Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan dan keterampilan mitra serta masyarakat dalam mengelola usaha jamur tiram diharapkan semakin meningkat. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pemasok bibit, kemampuan memproduksi bibit secara mandiri juga dapat membuka peluang usaha baru. Sementara itu, pengolahan limbah baglog menjadi kompos dapat mengurangi limbah produksi sekaligus menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pendukung budidaya tanaman.
Pemanfaatan limbah baglog menjadi kompos juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pelaku usaha. Produk kompos maupun bibit jamur tiram generasi F0–F2 berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai jual, sehingga dapat memperluas sumber pendapatan dan meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kegiatan pengabdian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya usaha jamur tiram yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan produksi pangan dan pengembangan sumber pangan bergizi, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan keterampilan serta peluang usaha masyarakat, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah baglog menjadi kompos, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penerapan praktik produksi yang lebih ramah lingkungan dan pemanfaatan kembali limbah organik. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara Fakultas Pertanian USU, mitra usaha Rumah Jamur Sadam, dan masyarakat dalam penerapan inovasi pertanian yang berkelanjutan.